Monday, 7 July 2014

Berhenti berwacana dan tulis apa saja

Ponjong, 7 Juli 2014

Baru saja beberapa menit hari ini dimulai. Ya, sudah masuk bulan Juli, dan Juni pun telah berlalu. Aku baru menyadari sesuatu, aku tidak menulis atau mengepos satu tulisanpun di bulan Juni. Huvd, padahal aku bertekad untuk aktif menulis di blog, paling tidak setiap bulan aku menulis dan memposting sesuatu. Tapi tekad itu terlupakan sebulan belakangan.

Aku tidak benar-benar tahu apa yang membuatku lupa untuk menulis. Apa aku terlalu sibuk? Sepertinya tidak juga. Apa tidak ada hal-hal bagus yang terjadi dibulan Juni yang bisa di tuliskan? Kupikir sebenarnya ada beberapa hal menarik. Apa aku sedang tidak galau karena itu seringkali menjadi sumber inspirasiku? Apa yang terjadi padaku??

Sambil menuliskan ini aku memikirkan beberapa hal tentang bulan Juni yang sebenarnya bisa aku tulis di blog. Seperti tentang hujan yang tiba-tiba saja mulai turun ditengah panasnya matahari Juni. Puisi “Hujan Bulan Juni” Supardi Joko Damono tiba-tiba menjadi soundtrack of the month. Beberapa kali terlintas untuk menulis tentang hal  itu(hujan bulan Juni) di blog, tapi pada akhirnya itu hanya menjadi ide yang kembali terlupakan.

Ada juga beberapa event menarik yang aku datangi yang sebenarnya bisa jadi isian blogku seperti ArtJog yang pada tahun 2014 ini sangat banyak sekali peminatnya sampai-sampai acara yang tadinya hanya akan berlangsung 1 minggu diperpanjang 1 minggu lagi karena banyaknya peminat. Saat 2 tahun lalu aku datang ke acara yang sama, ArtJog2012, keadaannya agak jauh berbeda terkait jumlah pengunjung yang tidak sebanyak tahun ini. Padahal waktu dua tahun lalu untuk dapat menikmati karya-karya seni di ArtJog kita tidak perlu membayar tiket masuk. Dan kebijakan penyelenggara untuk mengenakan biaya tiket masuk pada ArtJog2014 ini ternyata tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Jogja untuk tidak datang ke event seni terbesar di ASEAN ini, malah semakin besar antusiasmenya. Ya, kini telah banyak orang yang mau mengapresiasi karya seni dan seniman. Mengamati ArtJog tahun ini, aku bisa melihat itu, meskipun antara ingin mengapresiasi karya seni atau keinginan untuk sekedar eksis kadang aku yang tidak bisa membedakan.

Oke cukup, itu saja beberapa hal yang sebenarnya aku ingin tulis, lagi-lagi kini itu hanya wacana. Ah, wacana, banyak sekali wacana sampai bosan aku membuatnya -...-

Selanjutnya aku ingin sekali kembali aktif menulis di blog. Ku mohon, pada diriku sendiri, berhentilah berwacana dan tulis saja apa saja.

Trims :)

Friday, 16 May 2014

masihkah kau menganggapku kawan?

Kawan, masihkah kau menganggapku kawan?


Aku takut, kamu telah banyak berubah dan itu membuatmu tidak lagi menganggap penting persahabatan kita. Kau tau, rasanya lebih menyakitkan kehilangan seorang teman daripada seorang kekasih.
Kemana kau setiap aku mengajakmu bertemu? Dengan banyak sekali alasan, kadang tak masuk akal, kau menolak bertemu denganku. Kemana kau? Padahal ku tau kau memiliki waktu luang. Bahkan sering ku kehilangan kabar dari mu. Sayup-sayup saja, ku dengar kau telah berlari menjauh. Aku takut kau benar-benar meninggalkan ku. Apakah yang ku takutkan itu telah terjadi?
Ya, kau memang telah berlari, cepat sekali meninggalkanku. Sudah sukseskah dirimu? Mungkin, hingga tak kau hiraukan lagi diriku. Apa? Kau bilang aku yang melupakanku? Bagaimana bisa sedang aku yang selalu mencari kabarmu dahulu disela-sela angin. Sedang aku yang selalu memaksamu meluangkan waktu untuk kita bercengkrama barang sedetik. Meskipun pada akhirnya kau tetap saja menolak.
Aku tau semua orang berubah, aku juga. Setiap orang berubah. Tapi aku selalu berusaha menjadi orang yang sama seperti aku saat kita pertama kali bertemu, aku yang kamu kenal bukan aku yang telah berubah. Ku harap kau segera menyadari hal itu, bahwa aku tak ingin kau pergi kawan, sungguh. Kau mungkin hanya belum sadar bahwa kau begitu berharga untukku, di hidupku.



Ponjong, 16 Mei 2014


Sunday, 11 May 2014

Jauh jauhlah

Jika aku kamu, dan kamu adalah aku. Aku pasti sudah sejak lama meninggalkanmu.
Tapi aku tetaplah aku, yang selalu memasang muka patung dihadapanmu. Tanpa ekspresi, tanpa perasaan, dan memang seperti itu inginku. Aku menjaga perasaanku tetap hambar padamu dengan terus mempertahankan jarak yang kita ada diantara kita saat ini. Bersikap dingin dan tidak menunjukkan minat sedikitpun, tidak peduli dan sengaja mengacuhkanmu.

Semua itu kulakukan dengan sengaja dan bukan tanpa maksud apapun. Aku hanya ingin mempertahankan hubungan kita tetap seperti ini, hambar. Ego ku terlalu angkuh untuk kau rengkuh. Jangan berikan apapun padaku, karena aku tidak akan menerimanya, apalagi membalasnya. Jangan berharap apapun, sedikitpun padaku.

Kau bilang aku sengaja memasang pagar, ku pikir kau benar. Kau bilang aku harus membuka pintuku, akan ku buka tapi bukan untukmu. Kau bilang ingin bertamu? Yang benar saja, hatiku tidak pernah menerima tamu. Rumahku ku bangun untuk imamku, bukan hanya sekedar untuk kawan bertamu. Jauh jauhlah.

Pagar

Ku bangun dengan seluruh ego yang berhasil aku kumpulkan
dari sisa-sisa reruntuhan jembatan yang telah jatuh
Darinya ku rangkai pagar tebal yang tidak akan bisa tertembus
oleh cahaya sekalipun, apalagi olehmu
Sekalipun ku taruh sebuah pintu
itu bukanlah untukmu
Semakin kuat kau berusaha menerobos masuk
berkali-kali lipat aku bangun pagarku lebih tebal
Hingga udarapun tak lagi sanggup menyusup
Lalu akhirnya aku akan mati
Mati rasa
Rasa cinta
Jatuh cinta

Friday, 11 April 2014

Tertangkap Basah

Aku bingung. Aku tak tau lagi harus menempatkan mukaku dimana. Aku juga ragu apakah aku masih punya nyali untuk bertemu dengan mu. Seandainya bisa, aku ingin sekali menyembunyikan diriku dari mu, dari dunia mu. Menjadi orang yang kasat oleh matamu.

Sudah sangat banyak hal yang aku tuliskan tentangmu. Tapi itu tidak berarti aku menulisanya untuk kamu baca. Sungguh aku tak ingin kamu membaca semua ini. Selain karena aku tidak bisa menulis dengan baik, juga karena dalam tulisan-tulisanku ini aku mencurahkan semua perasaanku padamu. Aku tau perasaan ku ini tak bisa kau balas, jadi aku mencurahkannya dalam tulisan.

Tapi taukah kau betapa malunya diriku saat ternyata telah membacanya?? Hampir seperti malu karena kehilangan harga diri. Karenanya aku merasa tak ada lagi alasanku untuk berjumpa denganmu. Aku aku aku aku malu. Meskipun keadaan saat ini aku sudah berubah, tapi menyadari kau membaca tulisan-tulisan ku itu sama halnya dengan kau mengetahui rahasiaku yang ingin aku sembunyikan, terutama darimu. Seperti anak kecil yang ketahuan mengompol. Aku berharap aku bisa menghilang dan tak kasat di matamu. Sungguh.

Maafkan aku. Maaf. Maaf. Maaf.
Bukan apa-apa, hanya saja aku berharap kau segera melupakan apa yang baca itu. Terlebih jangan pernah sekalipun kau mengungkitnya. Jangan. Ku mohon, itu saja. Setidaknya, berikan ku sedikit saja harga diriku kembali.

Wednesday, 2 April 2014

Sang Pembuat Kopi


Aku beri tahu resep rahasiaku untuk membuat secangkir kopi yang nikmat, satu sendok kopi bubuk asli dan netralkan dengan dua sendok gula, lalu seduh dengan air mendidih yang baru saja diangkat dari kompor. Sederhana saja bukan? Dan dengan kesederhanaan itu yang membuat mereka selalu menunggu nunggu kopi ku setiap sabtu malam.

Kita, aku dan teman-temanku, memiliki satu rutinitas yang hampir selalu kami lakukan setiap akhir pekan, pada sabtu malam lebih tepatnya. Saat muda mudi lain memanfaatkan malam minggu mereka dengan berkencan atau bermain kemana, kami cukup berkumpul di markas yang kami namai Markas Kasukabe dan sisa malam minggu itu kita isi dengan bercengkrama, ngobrol, bercanda, dll. Satu hal yang juga menjadi rutinintas dalam rutinitas itu adalah kebiasaan kami untuk "ngopi" dan yang kebagian tugas membuatkan kopi untuk mereka semua adalah aku. Singkat cerita, yang kemudian diberi tugas untuk membuat kopi adalah aku. Aku tidak tahu kenapa, tapi ku pikir mereka menyukai kopi buatanku, atau sebenarnya itu terpaksa karena tidak ada yang mau diberi tugas itu selain aku? Entahlah, aku sih sebenarnya tidak masalah, aku suka kopi dan membuat kopi. 

Satu sendok penuh kopi bubuk asli akan menghasilkan kopi setengah kental dengan rasa asam yang kuat. Ya sebenarnya itulah yang membuat kopi terasa pahit. Tetapi dengan dua sendok gula, rasa pahit dan asam itu akan tertutupi dan hanya akan tertinggal saja di rongga mulut.  Kopi itu tidak akan terasa pahit ataupun manis. Kopi yang cukup ramah di lidah orang yang tidak terbiasa meminum kopi, sekaligus kopi yang punya cita rasa kuat bahkan untuk dirasakan oleh seorah perokok berat.

Berbicara tentang kopi, sudahkah aku beru tahu kamu bahwa aku pernah bercita-cita untu menjadi barista? Hmmm, mungkin belum, tapi meskipun sudah, aku akan tetap menceritakannya padamu. Sejak dulu saat masih duduk dibangku sekolah menengah atasm aku sudah sangat gemar minum kopi. Waktu itu aku sudah berteman akrab dengan malam, jadi aku selalu berjaga bersamanya. Malam yang mengenalkan aku dengan kopi. Aku sangat suka kopi meskipun pada awalnya aku hanya berani menenggak kopi susu atau kopi creamer. Kopi hitam menurutku terkesan terlalu "tua" dan "bapak-bapak" banget untukku yang waktu itu masih sangat belia (halah). Setelah sekian lama berteman dengan kopi, tak ku sadari aku mulai jatuh cinta padanya. Dan pada saat itulah, aku bercita-cita, bermimpi lebih tepatnya, untuk menjadi seorang barista atau pembuat kopi. Seperti mimmpi-mimpi aneh ku lainnya, ku pikir itu salah satu mimpiku yang agak susah di wujudkan, agak mustahil.

Ya, aku suka kopi, aku suka membuat kopi dan aku suka kopi yang aku buat, mereka, ku pikir juga menyukainya. Jadi aku akan berpikir ulang tentang kemustahilan mimpiku menjadi seorang barista. Aku hanya perlu menemukan jalannya. Semoga. Doakan saja :))


9 Maret
@Megalochelys

Thursday, 6 March 2014

Sahabat Malam

Entah kapan aku mulai bersahabat dengan malam
Berdendang bersama jutaan bintang
Menarikan kicauan kelelawar
Di depan kilauan kunang-kunang

Kedamaian malam yang membuatku nyaman
Sepi senyap yang ku nikmati sendiri
Tak ada lagi keindahan tangan yang memetik gitar
Bersenandung lagu yang sering ku dengar

Indahnya adalah malam
Yang menelan semua kelam
Dan ku telah tenggelam
Semakin lama semakin dalam
Lalu semuanya menjadi hitam
Di depan mataku yang suram

Wednesday, 12 February 2014

Hujan Pergilah

Lagi, aku ingin hujan pergi. Lagi, aku ingin melihat matahari. Bosan rasanya melihat langit kelabu sepanjang hari. Melihat langit terus menerus menangis seperti membuatku juga ingin menangis. Tidak, aku tidak sedang sedih. Aku hanya sedang bosan, sedang jenuh seperti udara jenuh dikala hujan.

Aku ingin sekali pergi menghilang untuk sementara. Mungkin ke dalam bumi. Atau ke atas langit. Mungkin ke dasar lautan. Aku ingin pergi, melarikan diri, hanya sebentar saja, aku ingin pergi dari kubangan tempatku terus menerus memikirkanmu.

Beberapa waktu yang lalu ku pikir aku telah mulai sedikit menyukai hujan. Ku pikir hujan sedikit demi sedikit melarutkan rasaku untukmu. Tapi yang terjadi alih-alih dia membawa mu pergi bersamanya, hujan malah semakin membenamkan diriku dalam kubangan ini, kubangan yang semakin dalam menenggelamkan diriku pada keterpurukan kerena kehilanganmu. 

Apakah kau berpikir bahwa diriku sangat menyedihkan? Semua ini salah hujan, jangan kau menyalahkan ku. Salahkan saja hujan, paling-paling dia akan marah dan menjatuhkan diri lebih deras. Angin sesekali akan membela hujan. Membuat siang seakan malam.

Baiklah, aku akui itu adalah salahku, hujan tidak salah. Dia hanya menyebalkan. Dia selalu berhasil membuatku basah. Aku benci dengan air. Entahlah, mungkin karena aku tidak pernah bisa menggenggam air. Ah, karena hujan datang hampir pada setiap sore aku merasa sangat kehilangan moment dikala senja. Senja dikala hujan tidak berarti apapun untukku. Aku ingin melihat senja langit merah saat hari cerah karena saat itu aku teringatkan lagi alasanku jatuh cinta padamu.

Oh, tolong kembalikan matahariku.

Memantaskan Diri

Pernahkah kamu merasa tidak pantas untuk seseorang? Pernahkah kamu merasa tidak pantas untuk siapapun? Dalam hal ini yang aku maksud adalah lawan jenis kita. Atau sebaliknya, pernahkah kamu merasa seseorang itu tidak pantas untukmu? Aku, tentu saja pernah, karena itulah aku menulis ini.

Aku pernah merasakan keduanya, merasa tidak pantas untuk seseorang dan merasa seseorang tidak cukup pantas untukku. Baiklah, semua orang tentu menginginkan seorang pendamping yang terbaik dan pantas untuk kita. Suatu kali aku pernah sangat menyukai seseorang. Seseorang itu, di mataku dulu, adalah seorang yang mungkin hanya akan muncul sebagai kekasihku dalam mimpiku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya dia akhirnya menjadi kekasihku. Dulu, aku merasa amat tidak pantas untuknya. Karena banyak hal, dia terlihat sangat berkilau dibanding denganku. Tetapi pada akhirnya dia menjadi kekasihku untuk beberapa waktu. Selama berhubungan dengannya, aku berusaha memantaskan diriku untuknya. Hingga sampai pada suatu waktu aku menyadari bahwa dia tidak lagi seberkilau dulu. Dan kini, ku pikir dia tak pantas untukku lagi. Tapi jangan salah, aku mengakhiri hubunganku dengannya bukan karena aku merasa demikian, memang kita ada masalah. Pada waktu yang lain, aku merasa beberapa orang tidak pantas untukku sehingga sebisa mungkin aku menolak dan menyangkal mereka. Maafkan aku, tapi aku memang tipe pemilh, jadi aku benar-benar akan memilih seseorang yang cukup pantas untukku.

Sesungguhnya, aku lebih senang berada dalam posisi yang tidak pantas. Aku ini amat suka hal-hal berbau tantangan dan pembuktian. Jadi dengan berada di posisi yang tidak pantas untuk seseorang, aku memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi lebih baik lagi dan membuktikan pada orang bahwa aku pantas. 

Beberapa waktu terakhir ini aku menyukai seseorang. Seseorang yang sudah sangat mendekati kekasih idamanku. Mungkin saja kau tau orangnya. Telah ku tulis banyak hal tentangnya. Oke pada intinya dia itu sangat emmh apa ya, berkilau, jauh jauh jauh lebih berkilau dari seseorang yang sebelumnya ku ceritakan. Aku bilang dia itu hampir sempurna untukku. Dan ku pikir dengannya aku bisa menggapai semua mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi ku bahkan yang paling mustahil. Dia sosok yang paling tepat. Dan masalah itu muncul kembali. Meskipun dia sudah sangat pantas untukku, aku tidak cukup pantas untuknya. Pada akhirnya kali ini aku benar-benar hanya mampu menjadikannya kekasih dalam mimpiku. Meskipun demikian, seperti layaknya aku, aku tidak akan menyerah begitu saja. Bukan berarti aku akan mengejarnya mati-matian sampai aku mendapatkannya, tetapi aku tidak akan menyerah untuk sekali lagi memantaskan diriku. Sebagai patokannya adalah dia. Aku akan memantaskan diriku sehingga aku bisa dengan bangga berdiris sejajar dengannya. Dan aku sudah bertekad, aku akan berusaha memantaskan diriku.

Dan untuk seseorang, cobalah juga untuk memantaskan dirimu untukku. Bila sudah tercapai titik dimana kau merasa kau pantas untukku, datanglah lagi padaku. Mari kita sama-sama berusaha untuk memantaskan diri menjadi yang terbaik demi mendapatkan yang terbaik. Sungguh, yakinlah semua akan indah nanti pada akhirnya :)

Wednesday, 8 January 2014

tak akan bisa lupa

kembali berjalan
memutar-mutar
lewati jalan berbatu terjal
berulang kali ku terjunggal
berlari sekuat kaki mengejar
kenangan

bukannya aku ingin
bahkan sebenarnya aku benci
sebisa mungkin berpaling

layaknya jalanku yang terus berputar
seirama lagu yang berkisah tentangmu
terekam sempurna dalam memoriku
tak ada yang terlupa, sedikitpun